I made this widget at MyFlashFetish.com.

Khamis, 22 September 2011

Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita......

Dr. MAZA

“Sesungguhnya ada tiga orang dari bani Israil, yaitu: penderita penyakit kusta, orang berkepala botak, dan orang buta. Kemudian Allah swt ingin menguji mereka bertiga, maka diutuslah kepada mereka seorang malaikat.
Maka datanglah malaikat itu kepada orang pertama yang menderita penyakit kusta dan bertanya kepadanya: “Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?”, ia menjawab: “Rupa yang bagus, kulit yang indah, dan penyakit yang menjijikan ramai orang ini hilang dari diriku”. Maka diusaplah orang tersebut, dan hilanglah penyakit itu, serta diberilah ia rupa yang bagus, kulit yang indah, kemudian malaikat itu bertanya lagi kepadanya: “Lalu kekayaan apa yang paling kamu senangi?”, ia menjawab: “unta atau sapi”, maka diberilah ia seekor unta yang sedang bunting, dan ia pun didoakan: “Semoga Allah swt memberikan berkah-Nya kepadamu dengan unta ini.”
Kemudian Malaikat tadi mendatangi orang kepalanya botak, dan bertanya kepadanya: “Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?”, ia menjawab: “Rambut yang indah, dan apa yang menjijikan dikepalaku ini hilang”, maka diusaplah kepalanya, dan seketika itu hilanglah penyakitnya, serta diberilah ia rambut yang indah, kemudian melaikat tadi bertanya lagi kepadanya: “Harta apakah yang kamu senangi?”. ia menjawab: “sapi atau unta”, maka diberilah ia seekor sapi yang sedang bunting, seraya didoakan: ” Semoga Allah swt memberkahimu dengan sapi ini.”
Kemudian melaikat tadi mendatangi orang yang buta, dan bertanya kepadanya: “Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?”, ia menjawab: ”Semoga Allah swt berkenan mengembalikan penglihatanku sehingga aku dapat melihat orang”, maka diusaplah wajahnya, dan seketika itu dikembalikan oleh Allah swt penglihatannya, kemudian melaikat itu bertanya lagi kepadanya: “Harta apakah yang paling kamu senangi?”, ia menjawab: “kambing”, maka diberilah ia seekor kambing yang sedang bunting.
Lalu berkembang biaklah unta, sapi dan kambing tersebut, sehingga yang pertama memiliki satu lembah unta, yang kedua memiliki satu lembah sapi, dan yang ketiga memiliki satu lembah kambing.
Sabda Nabi saw berikutnya:
Kemudian datanglah malaikat itu kepada orang yang sebelumnya menderita penyakit kusta, dengan menyerupai dirinya disaat ia masih dalam keadaan berpenyakit kusta, dan berkata kepadanya: “Aku seorang miskin, telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rizki) dalam perjalananku ini, sehingga tidak akan dapat meneruskan perjalananku hari ini kecuali dengan pertolongan Allah swt, kemudian dengan pertolongan anda. Demi Allah yang telah memberi anda rupa yang tampan, kulit yang indah, dan kekayaan yang banyak ini, aku minta kepada anda satu ekor unta saja untuk bekal meneruskan perjalananku”, tetapi permintaan ini ditolak dan dijawab: “Hak hak (tanggunganku) masih banyak”, kemudian malaikat tadi berkata kepadanya: “Sepertinya aku pernah mengenal anda, bukankah anda ini dulu orang yang menderita penyakit lepra, yang mana orangpun sangat jijik melihat anda, lagi pula anda orang yang miskin, kemudian Allah swt memberikan kepada anda harta kekayaan?”, dia malah menjawab:
“Harta kekayaan ini warisan dari nenek moyangku yang mulia lagi terhormat”, maka malaikat tadi berkata kepadanya: “jika anda berkata dusta niscaya Allah swt akan mengembalikan anda kepada keadaan anda semula”.
Kemudian malaikat tadi mendatangi orang yang sebelumnya berkepala botak, dengan menyerupai dirinya disaat masih botak, dan berkata kepadanya sebagaimana ia berkata kepada orang yang pernah menderita penyakita lepra, serta ditolaknya pula permintaanya sebagaimana ia ditolak oleh orang yang pertama. Maka malaikat itu berkata: “jika anda berkata bohong niscaya Allah swt akan mengembalikan anda seperti keadaan semula”.
Kemudian malaikat tadi mendatangi orang yang sebelumnya buta, dengan menyerupai keadaannya dulu disaat ia masih buta, dan berkata kepadanya: “Aku adalah orang yang miskin, yang kehabisan bekal dalam perjalanan, dan telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rizki) dalam perjalananku ini, sehingga kau tidak dapat lagi meneruskan perjalananku hari ini, kecuali dengan pertolongan Allah swt kemudian pertolongan anda. Demi Allah yang telah mengembalikan penglihatan anda, aku minta seekor kambing saja untuk bekal melanjutkan perjalananku”. Maka orang itu menjawab: “Sungguh aku dulunya buta, lalu Allah swt mengembalikan penglihatanku. Maka ambillah apa yang anda sukai, dan tinggalkan apa yang tidak anda sukai. Demi Allah, saya tidak akan mempersulit anda dengan mengembalikan sesuatu yang telah anda ambil kerana Allah”. Maka malaikat tadi berkata: ” Peganglah harta kekayaan anda, kerana sesungguhnya engkau ini hanya diuji oleh Allah swt, Allah swt telah ridho kepada anda, dan murka kepada kedua teman anda”. (HR. Bukhori dan Muslim)

Ahad, 28 Ogos 2011

rinduku pada kalian,,,,

Andai masa boleh diputar kembali,
Akan aku putar dan biarkan ia terhenti
Terhenti pada zaman ku ditarbiyah dengan sebenar-benar tarbiyah
Terhenti pada zaman ku dibajai dengan sebenar-benar ilmu

Ku rindu tempat itu
tempat yang mengajarku erti jihad
Erti susah dan payah menuju ilahi

Tidak mungkin luput dariku
kenangan terindah di tempat itu
Bersama mereka yang seangkatan denganku
Mencari dan mengejar sinar ilahi

Kini aku di sini
Di sebuah tempat yang juga mengajarkanku erti jihad
Iaitu tempat untuk beramal dengan apa yang dipelajari
Sesungguhnya benarlah kata-kata seseorang bahawa
tarbiyah itu bermula selepndai masa boleh diputar kembali,
Akan aku putar dan biarkan ia terhenti
Terhenti pada zaman ku ditarbiyah dengan sebenar-benar tarbiyah
Terhenti pada zaman ku dibajai dengan sebenar-benar ilmu

Ku rindu tempat itu
tempat yang mengajarku erti jihad
Erti susah dan payah menuju ilahi

Tidak mungkin luput dariku
kenangan terindah di tempat itu
Bersama mereka yang seangkatan denganku
Mencari dan mengejar sinar ilahi

Kini aku di sini
Di sebuah tempat yang juga mengajarkanku erti jihad
Iaitu tempat untuk beramal dengan apa yang dipelajari
Sesungguhnya benarlah kata-kata seseorang bahawa
tarbiyah itu bermula selepas tazbih kifarah

Namun ku rasa lemah
kerana tanpa mereka yang sentiasa bersamaku
Aku bukan sehebat mereka yang mampu berkata cukuplah Allah bagiku
Aku ini seperti Musa yang amat mengharapkan Harun sebagai penguat diri

Oh Tuhan, ku rindu mereka itu
Akhwat-akhwat tercinta
Sampaikan salam rinduku untuk mereka
Bersama doa-doa semoga mereka itu tsabat dijalanMu.

Wallahu'alam...




Wanita Teladan Sepanjang Zaman....


”Demi Allah! Dia (Khadijah) beriman kepadaku disaat orang-orang mengingkariku. Dia membenarkanku di saat semua orang mendustakanku. Dan dia membantuku dengan menginfakkan segenap hartanya ketika semua orang menahan hartanya dariku dan Allah telah mengurniakan beberapa orang zuriat dari rahimnya yang tidak aku perolehi dari isteri-isteriku yang lain”. [HR Ahmad, Al-Isti’ab karya Ibnu Abdil Ba’ar].

Khadijah binti Khuwailid bin Asad bin 'Abdil 'Uzza bin Qushay Al-Qurasyiyah Al-Asadiyah radhiyallahu'anha. Muslim manakah yang tidak pernah mendengar sebutan namanya?.  Siapakah yang menyangka di saat itu, keharuman peribadinya kelak akan merebak di sepanjang sejarah Islam di dada setiap kaum Muslimin? Siapakah yang terfikir bahawa wanita mulia ini akan dikurniakan satu keutamaan yang amat besar yang tidak pernah diperolehi oleh sekalian hamba Allah sejak penciptaan insan? Siapakah yang menduga bahawa wanita cantik jelita ini akan mendampingi manusia yang paling agung dalam rentang awal perjalanan dakwahnya? Siapakah yang mampu meramal ketentuan Allah ini? Maha Suci Allah yang telah menciptakan dan mentakdirkan wanita mulia ini sebagai pendamping Nabi akhir zaman.

Beliaulah isteri, sekali gus wanita pertama yang beriman kepada Allah dan Rasulullah Sallallahu alaihi wa Sallam.  Dianugerahi reputasi yang sungguh mulia, keturunan yang terhormat, peribadi yang luhur, perjalanan hidup yang istimewa, ketajaman daya fikir, semangat yang tinggi dan kalbu yang bening, nama Khadijah begitu harum di dalam sejarah Islam. Sebelumnya, beliau dikenali sebagai seorang wanita yang menjaga kehormatan dirinya sehingga digelar ath-Thahirah (wanita yang suci) .

Beliau seorang janda dari suaminya yang terdahulu, Abu Halah bin Zararah bin an-Nabbasy bin 'Ady at-Tamimi, kemudian berkahwin dengan 'Atiq bin 'A`idz bin 'Abdillah bin 'Umar bin Makhzum. Khadijah radhiallahu anha adalah wanita pedagang yang mulia dan banyak harta. Ternyata pekerjaannya itu telah menghantarkan kepada pertemuannya dengan manusia yang paling mulia. Saat dia kembali menjadi janda, seluruh pemuka Quraisy memasang angan-angan agar dapat menyuntingnya. Buah tutur Maisarah membekas di hatinya tatkala berita tentang kejujuran, amanah, dan kebaikan akhlak seorang pemuda Quraisy dikhabarkan kepada beliau. Tersimpan keinginan yang kuat dalam dirinya untuk memperoleh kebaikan itu, hingga diutus seseorang untuk menemui Rasululllah Sallallahu alaihi wa Sallam dan menyampaikan hasratnya. Ditawarkan dirinya untuk dipersunting Muhammad Sallallahu alaihi wa Sallam, seorang pemuda yang saat itu berusia 25 tahun, miskin dan yatim piatu tetapi tersohor kerana luhur peribadinya. Wanita jelita itu memperoleh kembali belahan hatinya dalam usia 40 tahun. Tersurat peristiwa ini dalam sejarah 15 tahun sebelum Muhammad Sallallahu alaihi wa Sallam diangkat sebagai Nabi akhirulzaman.

Perawat Duka, Khairul Anam
Wanita mulia inilah menjadi perawat duka suaminya di saat penurunan al-Haq melalui perantaraan Jibril alaihi sallam yang menggoncang hati Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam. “Aku khuatir akan terjadi sesuatu pada diriku”. Diselimutinya Rasulullah Sallallahu alaihi wa Sallam sehingga beliau kembali tenang dan hilang rasa ketakutannya. Dengan tenang dan lembut, beliau yang mengalirkan tutur kata penuh hikmah dari lisannya lantas membiaskan ketenangan di dalam dada suaminya,

“Demi Allah, Allah tidak akan menyusahkan dirimu selama-lamanya. Bergembira dan teguhkanlah hatimu. Sesungguhnya engkau seorang yang suka menyambung tali persaudaraan, suka menanggung beban orang (yang kurang bernasib baik), menghormati tetamu, memberikan sesuatu kepada orang yang tidak mampu, bercakap benar dan memberikan bantuan kepada mereka yang ditimpa bencana”. 
Sesungguhnya beliau telah menjalankan peranan politiknya dengan ketajaman dan kepekaan akalnya yang menjadikan beliau mampu untuk mencermati serta memahami dengan jelas masalah wahyu dan risalah yang diterima oleh Rasulullah Sallallahu alaihi wa Sallam,

”Terimalah khabar gembira dan teguhkanlah hatimu! Demi Zat yang diriku di tanganNya, sesungguhnya aku berharap engkau menjadi Nabi umat ini”. 
Perkhabaran dari Waraqah menjadikan beliau mampu memahami peranan yang bakal dipikul oleh Rasulullah Sallallahu alaihi wa Sallam dengan turunnya wahyu tersebut.

”Khadijah, kalau engkau masih percaya kepadaku, sesungguhnya telah datang ”an-nams  al-akbar” kepadanya. Dia adalah Nabi umat ini. Maka katakanlah kepadanya agar dia berteguh hati”. 
Baginda bukan sahaja seorang suami, atau ayah kepada anak-anaknya, tetapi juga Utusan Allah dalam menyampaikan wahyu dan risalahNya untuk umat yang ada pada ketika itu sehinggalah ke hari kiamat.

Di sinilah titik mula kepada sebuah pengorbanan yang tiada surut dan gantinya. Beliau jugalah manusia pertama yang solat di belakang Rasulullah Sallallahu alaihi wa Sallam bersama Saidina Ali radhiallahu anhu. Terus mengalir dukungan dan pertolongan dari beliau dalam menghadapi kaumnya. Beliaulah yang membantu Rasulullah Sallallahu alaihi wa Sallam dalam mengibarkan bendera Islam, tegar bersama Rasulullah sebagai angkatan pertama. Setiap kali beliau mendengar kata-kata kesat yang dilontarkan kepada suamninya, beliaulah yang setia di sisi baginda dan meringankan beban perasaan yang sangat berat ditanggung oleh kalbu manusia terpilih.

Bukan hanya itu sahaja kebaikan Khadijah radhialllahu anha. Beliau mengorbankan setiap harta yang dimiliki kepada suaminya. Bahkan, ketika Rasulullah Sallallahu alaihi wa Sallam menampakkan rasa senangnya pada Zaid bin Haritsah, seorang hamba miliknya, beliau segera menghibahkan hamba itu kepada suaminya. Zaid diangkat sebagai orang yang sangat dekat di sisi Rasulullah dengan menjadi anak angkat baginda sendiri. Turut tercatat, Zaid memperolehi kemuliaan sebagai salah seorang dari saf pertama yang mengimani dakwah Rasulullah Sallallahu alaihi wa Sallam.

Sebagai seorang isteri, beliau merupakan pendorong utama bagi Rasulullah Sallallahu alaihi wa Sallam untuk selalu giat berdakwah, bersemangat dan tidak kenal menyerah. Beliau juga selalu berusaha meringankan beban berat di bahu Rasulullah. Kebijakan, kesetiaan dan banyak lagi kebaikan Khadijah tidak pernah lepas dari ingatan baginda Rasul. Bahkan sehingga Khadijah meninggal dunia. Beliau benar-benar seorang isteri yang mendapat tempat tersendiri di dalam hati Nabi Allah ini. Betapa kasihnya baginda terhadap Khadijah sebagaimana di buktikan dari penceritaan Saidatina ‘Aisyah radhiallahu anha.

“Belum pernah aku cemburu terhadap isteri-isteri Rasulullah Sallallahu alaihi wa Sallam sebagaimana cemburunya aku kepada Khadijah, padahal aku tidak pernah melihatnya. Tetapi Rasulullah Sallallahu alaihi wa Sallam selalu menyebut-nyebut namanya, bahkan adakalanya menyembelih kambing dan diberikannya kepada sahabat-sahabat Khadijah. Bahkan pernah aku berkata, “Bukankah Khadijah itu seorang wanita tua? Bukankah Allah sudah memberikan kepadamu pengganti, isteri yang lebih muda dan baik daripadanya?”. Lalu Rasulullah Sallallahu alaihi wa Sallam menyebut, “Tidak! Demi Allah !Dia Subhanahu wa Ta’ala tidak memberikan seorang pengganti yang lebih baik daripadanya. Dia (Khadijah) telah beriman kepadaku pada saat orang-orang mengingkariku. Dia membenarkan ajaran yang aku bawa di saat orang-orang mendustakanku. Khadijah  membantuku dengan menginfakkan segenap hartanya ketika orang-orang menahan hartanya dariku dan Allah mengurniakanku beberapa orang zuriat dari rahimnya yang tidak diberikan oleh isteri-isteri yang lain” . [HR. Ahmad, Al-Isti’ab karya Ibnu Abdil Ba’ar].

Ummul Mukminin ini sentiasa berada di samping Rasulullah Sallallahu alaihi wa Sallam dan memberikan pembelaan terhadap baginda. Beliau juga bergabung bersama Rasulullah dan kaum Muslimin dalam memikul penderitaan lantaran sikap kaumnya yang mendustakan dan melecehkan dakwah baginda. Kesabaran dan keredhaan Khadijah dapat dilihat dengan jelas dalam siri hambatan terhadap dakwah Rasulullah, termasuklah dalam fasa pemboikotan terhadap Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib oleh orang-orang Quraisy yang selama ini menjadi pelindung kepada Rasulullah.

Wanita Teladan Sepanjang Zaman
Ditakdirkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, di usia 65 tahun iaitu 3 tahun sebelum Hijrah, Khadijah radhiallahu anha kembali kepadaNya di saat-saat dakwah melalui fasa genting yang bakal menentukan kelangsungannya. Pemergian beliau ditangisi Rasulullah Sallallahu alaihi wa Sallam, berlaku dalam selang waktu yang singkat selepas meninggalnya Abu Thalib, bapa saudara baginda. Sejak tahun kesedihan tersebut, hambatan-hambatan dakwah yang semakin getir dengan gangguan yang tidak putus-putus mula berani dilakukan oleh kaum kafir Musyrikin di Makkah.

Sesungguhnya nama Khadijah tercatat di dalam sirah sebagai wanita pilihan sehingga namanya disebut-sebut di kalangan penduduk langit dan bumi. Kemuliaan itu telah diraihnya sejak masih ada di muka dunia. Tatkala Jibril Alaihi Sallam datang kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam dan mengatakan, 

“Wahai Rasulullah Sallallahu alaihi wa Sallam. Ini dia Khadijah. Dia akan datang membawa bejana berisi makanan atau minuman. Bila ia datang kepadamu, sampaikanlah salam padanya dari Rabbnya dan dariku, dan sampaikan pula khabar gembira tentang rumah buatnya di dalam syurga dari mutiara, yang tak ada keributan di dalamnya, dan tidak pula keletihan”. Khadijah lantas menjawab salam itu dengan katanya: “Allah Maha Penyelamat, daripada-Nya keselamatan dan kepada-Nya pula kembali keselamatan. Semoga keselamatan atas Malaikat Jibril.” [HR. Bukhari dalam Shahih Bukhari, Bab Perkahwinan Nabi SAW dengan Khadijah dan Keutamaannya, 1/539]

Wahai Muslimah yang dirahmati Allah! Sesungguhnya istana tersebut adalah jauh lebih baik dari pada gemerlapnya dunia fana yang telah memperdayakanmu. Dan ini adalah sebaik-baik khabar gembira dibandingkan dunia dan segala isinya. Tidakkah kalian ingin mendapatkannya pula?

Ya Allah! Betapa mulianya Khadijah binti Khuwailid, As-Sayyidah Ath-Thahirah. Seorang isteri yang setia dan tulus, mukminah mujahidah di jalan deenNya dengan seluruh apa yang dimilikinya dari perbendaharaan dunia. Semoga Allah memberikan balasan yang paling baik kerana jasa-jasanya terhadap Islam dan umat Islam seluruhnya.
 

Isnin, 22 Ogos 2011

taNda- tanDa MalaM LAiLAtuLqAdaR.....

Lailatul-Qodr mempunyai beberapa alamat/tanda, baik secara langsung (yaitu pada malamnya) maupun setelah terjadi (yaitu pada pagi harinya).

http://1.bp.blogspot.com/-qBpPwO6Na1U/Tk_AVPxlEhI/AAAAAAAAAFM/t4Qq3X9fgWY/s1600/lailatul-qadar_1124_l.jpg
BerDoAlah paDa ALLAH wahai SohaBIAhku!!

Adapun alamat secara langsung (yaitu pada malamnya) di antaranya:
1) Sinar cahaya sangat kuat pada malam Lailatul-Qodar dibandingkan dengan malam-malam yang lainnya. Tanda ini pada zaman sekarang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang tinggal ditempat yang jauh dari sinar listrik atau sejenisnya.

2) Bertambah kuatnya cahaya pada malam itu.

3) Thuma’ninah. Yaitu ketenangan dan kelapangan hati yang dirasakan oleh orang-orang yang beriman lebih kuat dari malam-malam yang yang lainnya.

4) Angin dalam keadaan tenang pada malam Lailatul-Qodar, tidak berhembus kencang (tidak ada badai) dan tidak ada guntur. Hal ini berdasarkan hadits dari shohabat Jabir bin Abdillah sesungguhnya Rosululloh bersabda (yang artinya): “Sesungguhnya Aku melihat Lailatul-Qodar kemudian dilupakannya, Lailatul-Qodar turun pada 10 akhir (bulan Romadlon) yaitu malam yang terang, tidak dingin dan tidak panas serta tidak turun hujan”. (HR. Ibnu Khuzaimah no.2190 dan Ibnu Hibban no.3688 dan dishohihkan oleh keduanya).
Kemudian hadits dari shohabat ‘Ubadah bin Shomit sesungguhnya Rosululloh bersabda (yang artinya) “Sesungguhnya alamat Lailatul-Qodar adalah malam yang cerah dan terang seakan-akan nampak didalamnya bulan bersinar terang, tetap dan tenang, tidak dingin dan tidak panas. Haram bagi bintang-bintang melempar pada malam itu sampai waktu subuh. Sesungguhnya termasuk dari tandanya adalah matahari terbit pada pagi harinya dalam keadaan tegak lurus, tidak tersebar sinarnya seperti bulan pada malam purnama, haram bagi syaithon keluar bersamanya (terbitnya matahari) pada hari itu”. (HR. Ahmad 5/324, Al-Haitsamy 3/175 dia berkata : perawinya tsiqoh)

5. Terkadang Alloh memperlihatkan malam Lailatul-Qodar kepada seseorang dalam mimpinya. Sebagaimana hal ini terjadi pada diri para shahabat Rasulullah .

6. Kenikmatan beribadah dirasakan oleh seseorang pada malam Lailatul-Qodar lebih tinggi dari malam-malam yang lainnya.

Adapun alamat setelah terjadi (yaitu pada pagi harinya) di antaranya: Matahari terbit pada pagi harinya dalam keadaan tidak tersebar sinarnya dan tidak menyilaukan, berbeda dengan hari-hari biasanya. Hal ini berdasarkan hadits dari shohabat Ubay bin Ka’ab yang mengatakan: “Sesungguhnya Rosululloh mengkabarkan kepada kami: “Sesungguhnya Matahari terbit pada hari itu dalam keaadaan tidak tersebar sinarnya”. (HR. Muslim no.762, 2/828)
Adapun alamat yang menyebutkan bahwa tidak ada atau sedikit gonggongan anjing pada malam Lailatul-Qodar adalah tidak benar, karena terkadang dijumpai pada 10 malam terakhir di bulan Ramadhan anjing dalam keadaan menyalak/menggonggong. (Syaikh Utsaimin)

Oleh : Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid
Ketahuilah hamba yang taat -mudah-mudahan Allah menguatkanmu dengan ruh dariNya dan membantu dengan pertolonganNya- sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan paginya malam Lailatul Qadar agar seorang muslim mengetahuinya.

Dari Ubay radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Pagi hari malam Lailatul Qadar, matahari terbit tanpa sinar menyilaukan, seperti bejana hingga meninggi.” (HR Muslim 762). 

Kami menyebutkan malam Lailatul Qadar di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda (yang artinya), “Siapa di antara kalian yang ingat ketika terbit bulan, seperti syiqi jafnah.” (HR Muslim 1170. Perkataannya “Syiqi Jafnah”, syiq artinya setengah, jafnah artinya bejana. Al Qadli ‘Iyadh berkata, “Dalam hadits ini ada isyarat bahwa malam Lailatul Qadar hanya terjadi di akhir bulan, karena bulan tidak akan seperti demikian ketika terbit kecuali di akhir-akhir bulan.”)

Dari Abu Hurairah, ia berkata:
Dan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “(Malam) Lailatul Qadar adalah malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin, (dan) keesokan harinya cahaya sinar mataharinya melemah kemerah-merahan.” (HR Thayalisi (349), Ibnu Khuzaimah (3/231), Bazzar (1/486), sanadnya hasan).

Khamis, 4 Ogos 2011

Ramadhan Bulan Tarbiah Dan Jihad..


Ramadhan adalah bulan tarbiah dan jihad bagi pejuang-pejuang Islam. Justeru, kedatangan Ramadhan adalah proses untuk menundukkan hawa nafsu yang sentiasa bergelodak dalam jiwa untuk mengabadikan jihad dan perjuangan.

Andainya hawa nafsu boleh ditundukkan dengan jalan lain (bukan berpuasa) nescaya Allah akan mewajibkannya. Namun bilamana Allah mewajibkan puasa kepada umat dahulu dan sekarang, bermakna hawa nafsu hanya dapat dikawal melalui ibadat puasa.

Sejarah jatuh bangun umat dahulu memperlihatkan betapa banyaknya tekanan musuh dan serangan yang dilakukan dalam bulan Ramadhan kerana musuh menganggap umat Islam akan lemah kerana berpuasa. Lihatlah di zaman kita serangan ke atas Iraq, Afghanistan, Bosnia dan lainnya banyak dimulakan dalam bulan Ramadhan.
Bahkan kalau kita buka lipatan sejarah lampau, sejak zaman Rasulullah hingga zaman tabieen, serangan musuh banyak tertumpu dalam bulan Ramadhan.Kerana itu, Ramadhan janganlah dijadikan alasan untuk mengabaikan jihad; kerana tarbiah Ramdhan adalah tarbiyah langsung dari Allah, sehingga Allah menyatakan dalam hadis Qudsi yang bermaksud: Puasa kamu untuk Ku, maka Akulah yang akan memberi balasannya.

Alhamdulillah, Ramadhan datang lagi dengan penuh rahmat dan keberkatan. Marilah kita panjatkan kesyukuran ke hadrat Ilahi kerana dipanjangkan umur sehingga kita bertemu semula Ramadhan.

Rasulullah s.a.w. sering kali berdoa yang bermaksudnya: Ya Allah, berkatilah kami dalam bulan Syaaban, dan (panjangkan umur kami) sehingga bertemu dengan Ramadhan.

Betapa besarnya rahmat Ilahi bilamana kita dipanjangkan umur sehingga bertemu dengan Ramadhan kerana sabda Rasulullah s.a.w. bersabda yang bermaksud: Antara Ramadhan ke Ramadhan adalah pengampunan Allah.

Maksudnya, jelasnya sesiapa yang dipanjangkan umur sehingga dapat bertemu dengan Ramadhan, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yakni dosa kecil. Panjang umur bukan kerja kita, ia benar-benar hak mutlak Allah; lantaran itu marilah kita mensyukurinya.

Seluruh pendukung dan penyokong PMRAM serta seluruh mahasiswa Islam agar menjadikan Ramadhan ini sebagai bulan menambahkan amalan seharian, hidupkan tadarus al-Quran di kalangan ahli usrah.

Marilah sama-sama kita menghidupkan majlis berbuka, tarawih dan tazkirah di mana-mana ruang yang ada dan ambillah kesempatan menderma terutamanya memberi makan kepada orang yang berpuasa. Ini selari dan sejajar dengan sabda Rasulullah yang bermaksud: Sesiapa yang memberi makan kepada orang yang berpuasa iaitu menyediakan makanan berbuka puasa, maka dia memperolehi pahala sebagaimana orang yang berpuasa, dan tidak kurang sedikitpun pahala puasanya.

Namun, perlu diingatkan bahawa, orang yang berpuasa supaya hendaklah memendekkan masa dalam memikirkan soal makanan dan jangan membeli juadah untuk berbuka dari tangan-tangan yang fasiq, tangan yang tidak mengerjakan sembahyang, dan tangan yang tidak takutkan Allah.

Peliharalah setiap suap makanan kerana ia menjadi darah daging, dan darinya menjadi air mani yang melahirkan zuriat kamu.Kutiplah mutiara keberkatan Ramadhan pada siangnya dan hidupkanlah ibadahmu pada malamnya, kerana persoalan utama bukan Ramadhan yang penuh keberkatan dan rahmat, tetapi apakah kita memperolehi keberkatan dan rahmat itu.

Ahad, 3 Julai 2011

5 Tahap IMAN Manusia ..

 salam mahabbah..
IMAN TAQLID
Iman ikut-ikut atau Iman 'pak turut'.Orang yang beriman Taqlid,pegangan Islamnya tidak kuat dan prinsip Islamnya tidak kukuh.Dia tidak ada alasan yang kuat mengapa dia beriman.Dia ada dalil-dalil akal dan Al-Quran/as-Sunnah untuk membuktikan keyakinannya.Mengikut qaul yang lebih jelas,Iman Taqlid ini tidak sah.Segala amal ibadat orang yang beriman Taqlid adalah tertolak dan tidak mendapat pahala di sisi Allah Taala.

IMAN ILMU

Iman berdasarkan Ilmu.Iaitu seorang yang telah mempelajari tentang Allah,Malaikat2,Rasul2 dan Nabi,Kitab2,hari Qiamat dan lain-lain yang diwajibkan mengimaninya.Iman dan keyakinannya berasa dan kuat bertunjang pada akal.Iqtikadnya disertai dengan dalil-dalil yang kuat serta pegangan yang kukuh.Dia tidak mudah goyang atau terpengaruh dengan ideologi lain.
Tetapi orang yang beriman Ilmu,tidak takut akan Allah Taala dan mudah berbuat derhaka kepada-Nya.Mereka juga hanya mampu memperkatakan Islam,tetapi tidak mampu berbuat atau mengamalkannya.jadi,Iman Ilmu belum lagi dapat menyelamatkan seseorang itu dari neraka Allah.

IMAN 'AYYAN

Hasil daripada tarbiyah dan mujahadah yang bersungguh-sungguh orang yang beriman Ilmu akan meningkat kepada Iman 'Ayyan.Imannya bertempat di hati,bukan lagi di fikiran.Hati orang-orang yang beriman 'Ayyan sentiasa mengingati Allah, ibadahnya khusyu' dan ia sentiasa merasa kebesaran Allah Taala.Pabila disebut nama Allah, gementar hatinya.
Semua perintah Allah Taala dipatuhi dengan penuh rela dan kesungguhan.Ia terlalu sensitif dengan dosa serta sangat berakhlak dengan Allah dan manusia.Setiap ujian dihadapi dengan penuh sabar.Ia juga sentiasa mendapat bantuan dan pertolongan dari Allah Taala.Orang yang berada di peringkat Iman 'Ayyan tidak lama dihisab di Akhirat dan ia mudah masuk Syurga.

IMAN HAQ

Seseorang yang mencapai Iman Haq,mata hatinya melihat Allah Taala.Ertinya setiap kali melihat kejadian dan kebesaran Allah Taala,hati dan fikirannya tertumpu kepada Allah.tersa takut dan hebat kepada Allah setiap masa.Hatinya tidak lekang mengingati Allah dan sentiasa karam serta khusyu' dalam kesyahduan cinta pada Rabb.
Hatinya tidak terpaut dengan dunia dan ia tidak dapat dilalaikan oleh nafsu mahupun Iblis laknatullah.Mereka yang beriman 'Ayyan digelar Muqarrobin oleh Allah Taala,yakni orang yang hampir dengan-Nya.

IMAN HAKIKAT

Inilah peringkat iman yang paling sempurna dan tertinggi yang dimiliki oleh Rasul2, Nabi2,khulafa' ar-Rasyideen serta wali-wali besar.Mereka akan ditempatkan oleh Allah Taala di dalam Syurga yang paling tinggi.Hidup mereka setiap masa asyik dangan ibadah.Ibadah mereka cukup hebat, solat sunat paling kurang 300 rakaat sehari semalam.Budi serta akhlak adalah yang terbaik dan paling terpuji.
Allah Taala akan menurunkan barakah di mana sahaja mereka berada.Mereka digelar golongan 'superscale' Akhirat.Hidup dalam Syurga yang maha Indah lagi maha lazat.Allah mengurniakan yang sedemikian itu sebagai membalas cinta dan pengorbanan hakiki yang cukup besar semata-mata kerana Allah !
Di manakah tahap keimanan kita ?Sama-samalah kita sentiasa memuhasabah diri serta mempertingkatkan keimanan kita dengan mengerjakan amalan kebaikan dengan bersungguh-sungguh,iltizam dan istiqomah.Berbahagialah dengan berita gembira dari Allah Taala dalam surah Ali Imran, ayat 139 :

Maksud :Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah(pula) kamu bersedih hati,padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi(darjatnya) jika kamu orang-orang yang beriman.


"Kesabaran adalah tunjang kekuatan dan kebahagiaan di dunia mahupun akhirat...."
           #semoga kita beribadat padaNya untuk mencapai mardatillah dan benteng kaimanan yang hakiki...insyaALLAH...

Sabtu, 4 Jun 2011

daKwah IslaMiah..





Dakwah Islamiah pada mulanya adalah merupakan tugas para Rasul yang kemudiannya dilaksanakan oleh Alim Ulama'. Oleh yang demikian, bolehlah dikatakan bahawa kebahagiaan setiap umat sedikit sebanyak bergantung pada Alim Ulama'. Apabila mereka baik, maka baiklah manusia dan apabila mereka rosak nescaya rosaklah manusia. Ini bererti tanggungjawab Alim Ulama' amatlah besar, dan tugas mereka itu amatlah berat, lebih-lebih lagi kalau mereka menjadikan dakwah (tabligh) sebagai tugas khusus mereka. Pendakwah mesti ada mempunyai sifat-sifat di antara lain seperti berikut :

1. Memahami maksud Al-Quran dan Al-Hadis.
2. Beramal dengan ilmunya.
3. Tahan marah (berlapang dada)
4. Berani, tidak takut kepada sesiapapun dalam menerangkan kebenaran. Celaan manusia tidak akan menghalangnya daripada menjalankan kewajipan.
5. Menjaga diri, tidak mahu kepada harta kepunyaan orang.
6. Berpada-pada dengan kesenangan dunia dan redha dengan harta yang halal walaupun sedikit.
7. Kuat, sihat dan fasih lidah.
8. Mengetahui perkara-perkara di bawah ini :
(a) Hal ehwal orang yang akan menerima dakwah iaitu tentang kesediaannya untuk menerima dakwah, persekitaran dan sosialnya. (b) ilmu sejarah umum.
(C) Ilmu Psikologi.
(d) Ilmu Geografi.
(e) Ilmu Akhlak
(f) Mazhab-mazhab, aqidah yang betul dan mazhab-mazhab yang salah.
(g) Bahasa orang yang menerima dakwah.
(h) Ilmu kemasyarakatan (sosiologi) yang membincangkan perkembangan masyarakat manusia dan segala yang berkaitan dengannya.
9. Amat mempercayai kepada janji-janji Allah dan mempunyai harapan penuh untuk mendapat kejayaan biar pun usaha dakwah itu memerlukan usia yang lama dan memerlukan pengorbanan yang besar.
10.Tawadu' (merendah diri) dan menjauhkan diri daripada perkara
yang aib.

11.Tidak bakhil mengajarkan apa-apa ilmu yang diketahuinya. Tidak keberatan untuk melakukan sesuatu yang mendatangkan faedah kepada orang lain.
12. Bersifat wakar dan tenang.
13.Tinggi hemat dan mulia diri. Tidak berpuashati dengan perkara-perkara besar yang belum sampai kepada kesempurnaannya dan menjauhkan diri daripada perkara-perkara hina dan marah ketika disedari dirinya serba kekurangan pengetahuan atau bukti.
14. Sabar ketika menjalankan dakwah kerana Allah.
15. Bersikap Taqwa dan Amanah.



BERSIFAT WAKAR DAN AMANAH

Sifat wakar ada pada ;
(a) Orang yang tidak bercakap sesuatu yang sia-sia, sekiranya perlu bercakap dia akan hanya bercakap sekadar yang perlu sahaja.
(b) Orang yang menggunakan gerak-geri bagi menyatakan sesuatu maksud.
(c) Orang yang sedia mendengar segala pertanyaan dan berhati-hati ketika menjawab.
(d) Orang yang tidak gopoh dalam segala perkara.

Di samping itu sifat wakar ini juga dapat menggambarkan ciri-ciri ;

(a) Memelihara diri daripada senda-gurau yang tidak sopan.
(b) Tidak bergaul dengan orang yang suka bergurau dan menghindari majlis mereka.
(c) Menahan lidah daripada menyebut perkataan yang buruk.
(d) Tidak menunjuk-nunjuk diri tanpa sebab yang munasabah seperti duduk di jalan atau di pasar.
Sifat-sifat yang ditonjolkan begini menarik minat orang ramai kerana keperibadian dan akhlak serta kemuliaannya.
" Ingatlah sahabat sahabiah kita bukan pemula mahupun pengakhir, kita lah penyambung mata rantai perjuangan ini..........."\
wallahua;lam